Jati Diri

Hari ke-7 Ramadhan 1442 H Jati Diri adalah suatu yang ada di dalam diri kita. Meliputi karakter, sifat, watak dan kepribadian. Dapat dibilang bahwa jati diri adalah segala hal tentang diri kita. Dengan proses yang panjang dan penuh lika-liku, jati diri secara alami akan ada di dalam diri kita, baik itu saat usia muda maupun dewasa. Penemuan jati diri ini tidak mudah karena banyak faktor yang memengaruhi. Sebagaimana sebuah jalan. Bahwa jalan tidak lurus amat, dan tidak rata. Ada kalanya harus naik. Seketika turun. Berkelok kanan kiri. Seperti itulah penemuan jati diri seseorang. Namun ketika sudah berhasil menemukan jati diri,

» Read more

Ibu Shalihah

Hari ke-6 Ramadhan 1442 H “Anakku, bila engkau berjalan di atas kebatilan, maka berarti telah menceburkan diri jurang kebatilan, demikian juga orang yang bersamamu. Tapi, bila engkau berjalan di atas kebenaran, maka engkaulah sebaik-baik manusia. Karena itu, berjalanlah seperti apa yang telah ditunjukkan Allah kepadamu” Kata Asma’ binti Abu BakarDijawab oleh Abdullah bin Zubair “Wahai ibu, aku khawatir musuh-musuhku mempunyai kemampuan yang menyamaiku, atau malah menandingi” Dengan tegas ‘Asma mengatakan “Apakah anak domba akan merasa mendapatkan bahaya bila induknya telah tersembelih?”. Suatu ketika, Abdullah bin Zubair melaksanakan ibadah haji. Mengetahui hal itu, al Hajjaj mengerahkan pasukannya untuk membinasakan rombongan Zubair.

» Read more

Akal dan Naluri

Hari ke-5 Ramadhan 1442 H “Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Fatwa, Ibnu Taimiyah) Islam menjunjung tinggi dan memuliakan akal. Akal memang dipersiapkan untuk menyucikan serta meninggikan derajat manusia. Dengan akal yang sehat, dalam diri mereka akan tumbuh kebijakan. Inilah yang menyebabkan akal menjadi salah satu faktor yang dapat digunakan untuk berfikir lebih baik. Tidak

» Read more

Menyemai Kasih Sayang

Hari ke-4 Ramadhan 1442 H “Setiap perbuatan penting yang tidak dimulai dengan basmalah, maka pekerjaan tersebut tidak sempurna atau cacat.” Al- Hadits Basmalah adalah kata untuk “Bismillahhirrahmaanirrahim”. Ucapan itu tak sekedar ucapan saja. Melantunkan Bismillahhirrahmaanirrahim berarti kita menyatakan “saya berbuat dengan nama Tuhan Yang Pemurah lagi Penyayang”. Atau “saya bertindak atau bekerja dengan nama Tuhan Yang Rahman dan Rahim”. Semua kekuatan untuk bekerja atas karunia Allah. Manusia itu, tidak sepenuhnya menguasai dirinya. Kekuatannya terbatas. Kata Bismillahirrahmanirrahim, dimaksudkan untuk mendapatkan Rahman dan Rahimnya Allah swt. Pengasih dan penyayang. Sifat ini menjadi idaman bagi setiap orang, baik yang Muslim maupun non muslim.

» Read more

Miskin, Musibah dan Mati

Hari ke-3 Ramadhan 1442 H “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah : 155) Siapa yang tak takut miskin? Siapa yang tidak takut kekurangan? Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu tempat. Ditandai dengan ketidakmampuan memenuhi pangan, sandang dan papan. Miskinnya orang desa dengan orang kota berbeda. Siapa yang tidak takut musibah? Semua orang pasti akan menghindari musibah. Tak seorangpun dapat mencegah datangnya musibah. Tidak juga teknologi canggih yang akan menghindari musibah. Tidak ada satu

» Read more

Dien

Hari ke-2 Ramadhan 1442 H “Sesungguhnya dien (agama yang benar) di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19) Dalam bahasa Arab, dien berasal dari dana (tunduk) – yadinu – dinan (tunduk) yang berarti tatanan atau tatacara hidup Islam. Ada pula yang memberi makna : perilaku, perhitungan, kekuasaan, ketaatan. At Tabari menjelaskan bahwa kata dien bermakna ketaatan dan ketundukan. Dien yang memiliki banyak arti, sesungguhnya juga untuk tingkatan. Beragama memiliki tingkatan sebagaimana juga dalam masalah kepintaran, kepandaian. Tingkatan dalam dien antara lain : Pertama, Islam. Islam berasal dari kata aslama – yuslimu- islaaman, yang artinya : taat, tunduk, patuh, pasrah,

» Read more
1 2 3