Miskin, Musibah dan Mati

Hari ke-3 Ramadhan 1442 H

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah : 155)

Siapa yang tak takut miskin? Siapa yang tidak takut kekurangan? Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu tempat. Ditandai dengan ketidakmampuan memenuhi pangan, sandang dan papan. Miskinnya orang desa dengan orang kota berbeda.

Siapa yang tidak takut musibah? Semua orang pasti akan menghindari musibah. Tak seorangpun dapat mencegah datangnya musibah. Tidak juga teknologi canggih yang akan menghindari musibah. Tidak ada satu ilmupun yang akan mampu mengetahui kapan saat datangnya musibah.

Siapa yang tidak takut mati? Mati ataupun meninggal ditakuti oleh siapapun. Laki atau perempuan, tua ataupun muda, yang kaya maupun miskin. Sebagian orang sangat takut dengan kematian. Bayangan mereka, bahwa kematian adalah peristiwa yang menakutkan dan tragis. Imam Ghazali mengatakan bahwa manusia takut mati karena ia ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama. Manusia takut berpisah dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta dan kekayaannya.

Kemiskinan (kekurangan), Musibah dan Kematian pasti akan dialami oleh setiap orang, sebagaimana janji Allah swt dalam surat Al Baqarah : 155, di atas. Namun Allah membesarkan hati bagi orang yang sabar. Ayat inilah sebagai pembatas yang sangat jelas antara orang yang beriman dan kufur. Orang yang beriman akan taat dan tunduk pada keputusan Allah swt. Sebaliknya, bagi yang tak beriman akan menentang dan menuduh dengan dalih tidak adil.

Kemiskinan tidak hanya berupa harta benda. Miskin dapat juga berupa iman, ilmu dan amal. Kekurangan intelektual pada manusia lebih berbahaya, karena dapat menjurus pada perilaku kesombongan, keserakahan dan kedloliman. Orang yang tidak bersyukur, tidak akan pernah merasa cukup. Hanya orang bersyukur yang merasa selalu kekurangan dalam hal iman, ilmu dan amal. Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetikpun untuk mendapatkan yang lebih baik.

Mengurangi kesakitan akibat musibah yang menimpa, seseorang hanya mampu berdo’a. Kesabaran hanya dapat dibangun dengan pondasi do’a dan mampu mengambil hikmah (ibrah). Musibah, dalam al Qur’an dapat dkatagorikan menjadi empat bagian, yaitu : ujian bagi keimanan dan kesabaran seseorang, pengampunan dosa, pembalasan atas kesalahan dan sebagai obat atas penyakit yang diderita.

Hanya Allah swt yang memberi kehidupan. Allah yang memberi nyawa seseorang. Allah pulalah yang mencabutnya. Kematian semua makhluk-Nya pasti diketahui Allah. Kapan, dimana dan dengan cara apa kematian akan menimpa seseorang, hanya Allah yang mengetahui. Manusia, selayaknya mempersiapkan diri menuju pertemuan yang agung ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *