Akal dan Naluri

Hari ke-5 Ramadhan 1442 H

Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.”

(Majmu’ Fatwa, Ibnu Taimiyah)

Islam menjunjung tinggi dan memuliakan akal. Akal memang dipersiapkan untuk menyucikan serta meninggikan derajat manusia. Dengan akal yang sehat, dalam diri mereka akan tumbuh kebijakan. Inilah yang menyebabkan akal menjadi salah satu faktor yang dapat digunakan untuk berfikir lebih baik. Tidak ada yang terbaik. Yang ada hanyalah lebih baik. Ini sama halnya dengan modern. Modern terikat dengan waktu. Modern saat ini, belum tentu modern pada menit berikutnya.

Kata akal berasal dari bahasa Arab al-‘aql dari bentukan kata ‘aqala – ya’qilu – ‘aqalan, yang berarti faham atau memahami, menghayati atau merenungkan. Secara umum, akal adalah potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk mendorong lahirnya budi pekerti atau menghalangi seseorang melakukan keburukan.

Dalam al Qur’an, kata ya’qilun dan ta’qilun, ditemukan sebanyak 22 dan 24 kali. Terulangnya kata akal dan aneka bentuk dalam jumlah yang demikian banyak mengisyaratkan pentingnya peranan akal. Melalui akal, lahirlah pemahaman untuk berlaku luhur. Akal juga digunakan untuk memperhatikan dan menganalisa guna mengetahui rahasia-rahasia yang terpendam untuk memperoleh kesimpulan.

Agar akal dapat memiliki fungsi yang maksimal maka diperlukan pemandu atau pembimbing. Dalam Islam, yang menjadi pemandu atau pembimbing akal adalah Al Qur’an dan as-Sunnah. Tanpa adanya bimbingan dari Al Qur’an dan as-Sunnah.

Karena akal harus dibimbing oleh al Qur’an dan as Sunnah, maka diperlukan adanya naluri. Naluri manusia, adalah berbuat kebaikan, yaitu sejak dihembuskannya kehidupan untuk yang pertama kalinya. Naluri atau insting adalah pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari, tetapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun.

Naluri dapat juga dikatakan fitrah atau kodrat dari Allah swt. Sebagai contoh, naluri keibuan atau kebapakan akan muncul dengan sendirinya. Secara naluri, seorang ibu pasti memiliki kasih sayang dan ikatan batin dengan anaknya. Manusia secara naluri akan menebarkan kasih sayang kepada lingkungan. Tidak merusak, tidak berbuat semena-mena. Sehingga sangat pantas bila manusia dijuluki sebagai khalifah.

Akal dan naluri, harus diletakkan pada porsinya masing-masing. Orang yang berakal tapi tidak memiliki naluri, maka yang muncul adalah perilaku kebinatangan. Demikian juga, kalau naluri tidak bersentuhan dengan akal, maka dunia ini akan stagnan, mandek, berhenti. Karena akal tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *