Berdakwah di Era Didital

Virus Corona ternyata memiliki sejarah nama yang cukup beragam. Namun para ahli sepakat bahwa Corona, pada akhirnya diberi nama populer covid19. Semula Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan corona dengan nama novel coronavirus (nCov). Akhirnya corona diberi label COVID-19. Covid19 juga tidak mengidikasikan suatu daerah.

Sebenarnya, sudah ada beberapa lembaga yang mengusulkan nCov diganti menjadi SARS 2, tapi covid19 ternayata lebih baik. Covid itu menggambarkan coronavirus disease. 19 melambangkan tahun kejadian. Seperti diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan. Orang pertama yang terpapar penyakit ini berprofesi sebagai pedagang hewan di kota itu.

Mengapa diberi nama Vicon20? Tentu ada kaitannya dengan Covic19.

Sejak pertengahan Maret 2020, isu tentang corona yang gentayangan di Indonesia berhembus deras. Virus jenis ini memang berakibat sampai pada yang fatal yaitu kematian. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah dan segenap lapisan masyarakat, agar virus tak menyebar. Cara yang paling tepat dan murah, memutus mata rantai, yaitu dengan menghindari kerumunan masa.

Di dunia Pendidikan, proses belajar mengajarnya di rumah. Tidak libur. Istilah keren yang beredar adalah Work From Home (WFH). Meskipun mulainya tidak serempak, tapi di lingkungan guru punya tekad yang serentak, yaitu mengajar atau memberi tugas dengan cara on line. Sehingga antara guru dan siswa masih melaksanakan pembelajaran.

Sebagai orang yang mengaku dirinya dalam golongan positif thingking, maka kejadian seperti ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Memanfaatkan celah-celah yang ada. Ada Sebagian guru yang terpaksa harus belajar dari sumber belajar dalam jaringan (daring). Sebagian guru yang lain, telah melakukan eksplorasi dan mengembangkan, dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada dalam internet.

Covid19 dan Ramadhan adalah sebuah realita yang tidak bisa ditolak. Covid19 datangnya tiba-tiba, Ramadhan datangnya sudah terencana. Covid19 memutus mata rantai silaturahmi secara verbal, Ramadhan menyatukan mata rantai. Bekerja dari rumah adalah langkah yang ditempuh oleh pemerintah dengan tujuan memutus mata rantai akibat pendemi.  Dalam situasi seperti ini peran teknologi menjadi sangat penting.

Bulan Ramadhan ini, umat muslim akan berupaya meningkatkan kualitas ibadah. Bukan saja untuk urusan ibadah (mahdhah), tapi peribadatan yang terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari. Menuntut ilmu adalah aktivitas yang erat sekali dengan urusan duniawi, namun tak lepas dari ukhrawi. Semuanya akan bermuara pada generasi yang Rabbani.

Apakah setelah seseorang memperoleh segudang ilmu lantas berdiam diri? Kalua perlu ilmunya dikarantina? Sebagai seorang muslim tentu saja tidak. Seorang muslim, dituntut juga untuk menyebar ilmu kepada siapapun. Sebab ilmu bukan saja mengandung susunan angka dan huruf serat kode-kode lainnya, ilmu hakekatnya mengandung juga barakah. Sebagimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, sampaikan (ilmu) walaupun satu ayat. Kegiatan seperti ini sering disebut dengan dakwah.

Menurut Wikipedia, dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah, sesuai dengan garis aqidah, syari’ah dan akhlak. Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara dan tuntutan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan agama.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdakwah. Caranya bagaimana? Apabila suasana Ramadhan masih pendemi, maka caranya dengan memanfaatkan komunikasi digital. Internet adalah sebuah jalan utama yang bisa menghubungkan antara naras umber dan audience.

Perkembangan yang sangat pesat dari teknologi komunikasi berefek ke sisi yang positip. Informasi bisa didapatkan seketika, berkomunikasi dengan orang yang berjarak jauh hanya hitungan detik, mencari dokumen lebih mudah. Namun disisi lain, derasnya informasi menjadikan seseorang laksana seseorang berada di hutan rimba.

Orang yang bijak, tentu sudah memiliki filter berdasarkan skala prioritas. Artinya, pada saat berselancar di dunia maya, orang harus berpegang teguh pada satu tujuan. Banjir informasi harus dipilah mana yang bermanfaat, dan mana yang mendatangkan madharat. Media berperan sebagai sarananya, sedangkan manusia berpredikat sebagai penggunanya.

Media berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan isi dakwah. Media juga berperan sebagai motivator agar masyarakat melakukan komunikasi lewat media. Melihat kondisi masyarakat saat ini, yang hampir semua orang mempunyai akun dalam bermedia sosial, hanya dengan sebuah smartphone, segala semua informasi dapat diraih sekaligus di share secara cepat.

Dampak dari kemajuan teknologi dan perkembangan dakwah, kondisi masyarakat menjadi lebih fokus meraih ilmu dengan memakai jasa internet. Seorang da’i dituntut untuk mahir menggunakan smartphone. Bukan hanya lihai dalam menyampaikan pesan lewat ceramah. Seorang guru mesti menguasai beberapa aplikasi untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain.

Penyebaran informasi yang salah atau hoax, akan lenyap sendiri apabila seseorang telah memperoleh ilmu yang memadai. Ia tak akan tertelan isu murahan yang akan menjerumuskan. Oleh karenanya tugas da’i memang berat. Tugas guru juga berat. Meraka harus mampu memberikan informasi yang valid dan sekaligus menarik apabila didengar, dilihat, atau dibaca oleh orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *